Tradisianime.com – Anime berjudul Last Period: Owarinaki Rasen no Monogatari mungkin tidak sepopuler anime isekai raksasa yang mendominasi musim tayangnya. Tapi di balik tampilan karakter imut, warna-warni, serta dunia fantasi yang tampaknya biasa saja, Last Period justru menyimpan satire dan kritik terhadap budaya gacha, industri anime modern, bahkan dunia RPG mobile yang makin hari makin ekstrem. Anime ini menjadi cermin yang menyindir apa yang sebenarnya terjadi di balik layar sistem gacha dan game fantasi yang begitu digandrungi anak muda zaman sekarang.
Anime ini tayang tahun 2018, namun ide dan isinya terasa lebih relevan justru di era sekarang, ketika pemain mobile game rela menghabiskan ratusan ribu hingga puluhan juta hanya untuk mendapatkan karakter SSR. Dan Last Period menggunakan komedi sebagai senjata untuk menyerang fenomena itu secara halus, namun tetap efektif.
Dunia di Dalam Last Period Tidak Lebih Baik dari Dunia Game Mobile di Kehidupan Nyata
Ceritanya berpusat pada seorang anak bernama Haru, anggota dari “Period” sejenis tim petualang yang harus mengalahkan monster bernama “Spiral”. Tetapi sejak episode awal, penonton langsung bisa melihat bahwa sistem di dunia anime ini memiliki struktur yang sangat mirip dengan game gacha offline.

Mulai dari:
- harus melakukan grinding
- perlu mengumpulkan resource
- ada istilah jalur evolusi karakter
- dan pengeluaran resource yang tidak masuk akal
Bahkan sistem summon karakter di anime ini dibuat seperti sistem gacha di game mobile. Dan anime ini sengaja memperlihatkan betapa absurd dan lucunya sistem itu kalau diterapkan secara literal.
Kritik Halus untuk Penonton yang Sudah Kecanduan Gacha
Apa yang membuat Last Period terasa sangat unik adalah bagaimana mereka menggunakan komedi ringan untuk menyampaikan fakta pahit:
Dunia gacha membuat pemain percaya bahwa semua masalah bisa diselesaikan dengan “draw” atau “summon karakter baru”.
Anime ini seolah ingin bilang:
“Kita hidup di dunia dengan imajinasi memanggil kekuatan. Tapi sebagian dari kita hampir percaya bahwa karakter digital punya nilai setara emas.”
Dan secara tidak langsung, Last Period menyentil pemain mobile game yang terkadang menganggap karakter gacha sebagai investasi.
Sindiran Terhadap Formula Isekai
Selain gacha, anime ini juga menyindir format isekai secara umum. Banyak anime isekai memanjakan penonton dengan power up instan, cheat, skill overpowered, atau penyelamatan ajaib. Last Period menggunakan pendekatan berlawanan.
Di sini, semuanya tidak instan. Bahkan untuk “bertahan hidup”, karakter-karakter utama harus bekerja keras. Dunia fantasi mereka bukan surga, tapi birokrasi berbelit yang penuh aturan. Bahkan guyonan receh pun sebenarnya menyasar genre isekai yang terlalu punya pola.
Semua yang indah dan serba mudah dalam isekai konvensional dijungkirbalikkan di Last Period.
Komedi Meta yang Pintar dan Bukan Sekadar Lelucon Kosong

Last Period bukan komedi random yang sekadar melempar humor visual. Banyak leluconnya adalah meta humor yang berarti anime ini sadar bahwa ia sedang mengejek fenomena anime modern, sistem industri, dan budaya konsumsi yang aneh.
Ini beberapa metafora kuatnya:
- “Spiral” adalah simbol sistem perputaran dunia gacha yang tidak ada habisnya.
- Haru menggambarkan pemain pemula yang idealis, namun terus menerus dihantam realita industri.
- Sistem “Parti” menggambarkan guild atau gacha party dalam game.
Anime ini seperti mengajak penonton untuk bertanya:
“Apakah game itu bersifat hiburan atau sebenarnya perang psikologis yang membungkus fragmentasi logika ekonomi?”
Last Period adalah Hiburan, Sindiran Sosial, dan Kritik Industri dalam Satu Paket
Anime ini adalah paket lengkap tiga hal:
- komedi fantasi
- meta parody anime lain
- kritik sosial terhadap industri gacha dan isekai
Dan semuanya dikemas dengan ringan, tidak menggurui, dan tetap menyenangkan ditonton.
Karena itu Last Period adalah anime yang sebenarnya perlu mendapatkan lebih banyak perhatian. Ia bisa membuat kita tertawa, tapi di baliknya terselip pesan cerdas yang membuat kita berpikir.
Di era sekarang, ketika game mobile dan anime isekai sudah sangat mendominasi budaya pop Jepang, Last Period hadir sebagai cara pandang alternatif: bahwa semua keindahan itu bisa jadi hanya topeng dari siklus kapitalisme hiburan yang tidak ada ujungnya.

